Rabu, 22 Agustus 2012

Tinjauan Agama Semitik Secara Historical

Kalau anda penggemar atau pemerhati sejarah para nabi, maka anda akan tahu arah tulisan ini, namun jika pengetahuan anda tentang sejarah para nabi sangat sedikit, maka tulisan ini akan membantu anda untuk memahami atau paling tidak mengetahui perkembangan ajaran dan tradisi semitik hingga lahirnya agama Islam lewat pribadi nabi Muhammad. Tulisan ini hanya akan menjadi pengungkapan kembali fakta-fakta sejarah dengan sedikit kesimpulan yang merupakan asumsi pribadi yang terbuka untuk didiskusikan.

Sejak jaman nabi Adam kemudian “misalnya” Nuh, Ibrahim/Abraham, Ismail, Ishak, Musa, Daud, Sulaiman/Solomon, dan nabi-nabi lainnya, ajaran semitik hanya mengenal satu Tuhan (monotheis), Adam sebagai manusia pertama adalah merupakan hasil kreasi langsung Tuhan melalui proses penciptaan, namun hingga akhir hayatnya Adam tidak pernah memanggil 'Bapa' kepada Tuhan sebagaimana “misalnya” Frankensteins memanggil 'Bapa' pada penciptanya, selain itu tidak satu pun turunannya yang menganggap Adam adalah 'anak Tuhan'. Kecuali saat setelah nabi Isa (Yesus) hadir dan mendapatkan wahyunya, pasca nabi Isa (Yesus) naik ke surga, para pengikutnya yang disebut Kristen selanjutnya memanggil nabi Isa (Yesus) dengan sebutan anak Tuhan (Allah) atau bahkan Tuhan (Allah). Nabi Isa (Yesus) sendiri dalam versi sejarah sesuai asumsi dan kajian para ilmuwan tidak pernah secara jelas dan tegas mendeklarasikan diri sendiri sebagai Tuhan atau anak Tuhan, namun beliau selalu meyakinkan para pengikutnya bahwa beliau adalah utusan Tuhan yang dikirim ke bumi untuk membawa kemaslahatan (menyelamatkan) manusia, membawa perbaikan moral dan meluruskan persepsi-persepsi salah manusia akan makna Tuhan, dan kasih terhadap sesama manusia, dalam ajarannya nabi Isa (Yesus) masih mengadopsi Taurat, Zabur/Mazmur dan ajaran-ajaran lainnya dari para nabi sebelumnya sebagai kitab sucinya, yang sekarang disebut perjanjian lama (bibel).

Nabi Isa (Yesus) hadir belakangan dari nabi-nabi sebelumnya, oleh karenanya ajaran-ajaran nabi Isa (Yesus) walaupun masih bersumber dari Taurat, Zabur/Mazmur dan ajaran-ajaran para nabi sebelumnya namun telah lebih bersifat “kekinian” (sesuai dengan standar moral pada jaman itu). Dari seluruh ajaran semitik yang telah ada dan eksis kala itu, yang paling terkenal dari ajaran nabi Isa (Yesus) adalah perlawanan terhadap hegemoni para rabi/pemimpin agama yang sudah berkuasa sedemikian rupa besarnya. Pada saat itu seruan pemimpin agama adalah harga mati yang harus diikuti para pengikutnya, tidak peduli apakah seruan itu benar atau salah, logis atau tidak logis, pendek kata para pemimpin agama lewat institusi yang mereka dirikan telah mengambil alih suara kebenaran Tuhan.

Sebagaimana kisah para nabi lainnya, kisah nabi Isa (Yesus) disini juga sebagai simbol perlawanan minoritas yang dimarginalkan dari sisi keyakinan mereka, kala itu pengekangan keyakinan terjadi karena penguasa wilayah atau para rabi/pemimpin agama merasa takut bahwasanya masyarakat luas akan dapat membuka mata tentang makna kebenaran dan keadilan yang pada akhirnya akan mengikis penghormatan/respek mereka terhadap penguasa wilayah atau para pemimpin agama, terlebih bagi penguasa wilayah hal tersebut dapat berdampak pada lahirnya suatu gerakan pemberontakan dikarenakan timbulnya kesadaran dari masyarakat bahwa Tuhan menciptakan manusia adalah equal, tidak ada derajat yang lebih tinggi atau rendah bagi sesama manusia di hadapan Tuhan, tentunya penguasa wilayah atau para pemimpin agama sangat ketakuan dengan ajaran-ajaran yang diserukan nabi Isa (Yesus) kala itu.

Ajaran-ajaran nabi Isa (Yesus) yang telah berani “melembutkan” hukum taurat yang terkesan kejam dan sadis, serta menghilangkan hegemoni para pemimpin agama, menjadi berantakan karena ulah para pengikut nabi Isa (Yesus) sendiri yang belakangan pasca nabi Isa (Yesus) naik ke surga justeru mendirikan gereja-gereja (cathedrals), memilih pemimpin mereka dan kemudian mempunyai institusi agama yang memiliki kekuasaan sangat besar bahkan absolut pada masa itu, hal mana paling dibenci dan dilawan habis-habisan oleh nabi Isa (Yesus) pada masanya (hal ini pula menjadi salah satu alasan fundamen terpecahnya aliran Kristen berabad-abad setelahnya). Alasan-alasan tersebut membuat para pengikut setia ajaran semitik untuk back to basic, kembali menuhankan Tuhan yang satu yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, kesempatan ini juga menjadi momen diberlakukannya kembali ajaran-ajaran hukum taurat dan tradisi semitik seperti rajam atau potong tangan bagi para pencuri, lempar batu bagi perempuan yang berzinah, dan lain-lain, meskipun tata cara yang digunakan tidak sama persis dengan jaman dimana hukum taurat berlaku pada mulanya. Selain itu ada satu lagi hukum alam (sunattullah) yang masih belum dipenuhi oleh nabi Isa (Yesus) pada masanya yang hukumnya wajib demi terjaganya tradisi ajaran dan tradisi semitik, yaitu glory atau kemenangan mutlak dari pihak yang tertindas (penganut ajaran dan tradisi semitik) baik secara syiar bahkan fisik atas para penindas yang dilambangkan sebagai simbol kebatilan/kejahatan. Dalam ajaran semitik bahwa "kebenaran akan selalu menang", bahwa "kejahatan,/kebatilan dan segala bentuk pelanggaran  kemanusiaan yang kontra dengan prinsip keadilan harus kalah pada akhirnya". Tidak menikahnya nabi Isa (Yesus) semasa beliau hidup dan terangkatnya posisi wanita dalam ajaran-ajaran nabi Isa (Yesus) adalah bentuk dari cacat tradisi semitik yang harus dikoreksi, fakta sejarah menunjukkan bahwa para nabi ajaran semitik adalah para laki-laki yang isterinya bahkan nyaris selalu lebih dari satu, ajaran semitik memang bersifat jantan atau bisa dikatakan ajaran semitik adalah “agamanya laki-laki”.

Penasbihan nabi Isa (Yesus) sebagai anak Tuhan atau bahkan Tuhan, entah dalam pengertian harfiah atau hanya sebatas pemahaman hakikat ketuhanan, menjadi penyebab utama atau paling tidak menjadi salah satu sebab penting lahirnya agama Islam. Simpang siur dan carut marut atas claim apakah nabi Isa (Yesus) adalah Tuhan, anak Tuhan atau hanya seorang Nabi adalah penyebab lahirnya agama Islam. Pasca nabi Isa (Yesus) naik ke surga, bagi banyak masyarakat kala itu ajaran dan tradisi semitik harus tetap dipertahankan, entah oleh Tuhan (atau yang di-Tuhan-kan) maupun oleh para pengikut setia ajaran semitik. Ketika kala itu banyak manusia mulai menganggap nabi Isa (Yesus) adalah anak Tuhan bahkan Tuhan, maka mulailah muncul kerinduan akan hadirnya nabi baru yang benar-benar bercirikan semit, baik dari cara berketuhanan maupun dalam tata cara peribadatan terkait dengan aturan-aturan yang akan diberlakukan dan diterapkan bagi penganut dan penerus ajaran semitik yang setia. Hadirnya nabi Muhammad yang bukan berasal dari bani Israel/Yahudi -yang merupakan keturunan nabi Ishak-, namun beliau berasal dari keturunan nabi Ismail, akan lebih mudah untuk memurnikan ajaran dan tradisi semitik yang sempat terkikis bahkan hilang oleh para Kristen yang menuhankan nabi Isa (Yesus) yang kala itu telah berkembang pada hampir seluruh keturunan nabi Ishak. Dengan asumsi logis dapat juga kehadiran beliau karena adanya trauma atas misi nabi Isa (Yesus) yang dianggap “gagal” menjaga dan melestarikan ajaran-ajaran dan tradisi semitik. Ajaran-ajaran yang disyiarkan oleh nabi Muhammad tetap berdasarkan Taurat, Zabur/Mazmur dan ajaran-ajaran para nabi sebelumnya dengan tambahan hadits-hadits sebagai pedoman hidup, namun dengan tetap memposisikan nabi Isa (Yesus) sebagai salah satu nabi pendahulunya. Sejatinya nabi Isa (Yesus) dan nabi Muhammad adalah penganut setia ajaran semitik, hanya nabi Muhammad “jauh lebih semit” dibanding nabi Isa (Yesus).

Dari uraian fakta-fakta sejarah di atas, kalau saat ini masih ada para Yahudi, Kristen dan Islam saling mencaci dan memaki serta mendalilkan kebenaran agamanya, maka mulailah berfikir lagi dan merekonstruksi ulang pemahamannya. Nabi Muhammad hadir dan mensyiarkan Islam pada hakikatnya adalah upayanya untuk menggenapi dan memurnikan ajaran dan tradisi semitik yang tercoreng oleh para pengikut nabi Isa (Yesus) yang menuhankannya, di sisi lain Yahudi tetap menjaga tradisi suku bangsanya berdasarkan pemahaman ajaran semitnya. Fakta-fakta di atas telah menjadi rekam jejak terbentuknya 3 aliran (agama) besar yang bersumber dari ajaran dan tradisi semitik yang serupa tapi tak sama yakni Yahudi, Kristen dan Islam.

- END -

nb: Dengan mengacu pada paparan fakta sejarah sebagaimana terurai di atas maka tidak perlu lagi kasuk-kusuk mengenai benar tidaknya ajaran semitik yang mengajarkan pengikutnya untuk menjadikan diri mereka martir bahkan bom bunuh diri, dan tidak perlu buang-buang energi untuk mencari alasan mengapa ajaran semitik yang paling baru (Islam) menunjuk kafir kepada moyang religius mereka, yaitu para penganut ajaran semitik lainnya yang non Islam.